Rabu, 23 Januari 2013

Review kinerja Anda


Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Ia mengambil peti minuman & mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin.

Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka.

Koh Abeng, si pemilik toko mengamati-amati­­ tingkah bocah ini & menguping percakapan teleponnya.

Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?

Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.­­

Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.

Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.

Bocah (dengan sedikit memaksa): Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu & saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yg tercantik di antara rumah" yg berada di kompleks perumahan ibu.

Ibu: Tidak, terima kasih.

Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon.

Koh Abeng, yg dari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.

Koh Abeng : Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, & aku ingin menawarkanmu pekerjaan.

Bocah: Tidak. Makasih.

Koh Abeng: Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.

Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus.
Sayalah yg bekerja untuk Ibu tadi!
 

Sahabatku yg bijak, Seperti anak kecil ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yg kita kerjakan pada tahun 2012 untuk memastikan kualitas yg lebih baik pada tahun 2013.

Ingatlah...

Apapun yg akan kita kerjakan, pastikan kita melakukan yg terbaik...

Bukan begitu Sahabat Hebatku..?!!

Selamat mengisi tahun 2013....!!!

Tetap Semangat,

Tetap Santun... Salam Hangat Sahabat Hebatku...

* Silakan klik share/bagikan

Selasa, 15 Januari 2013

Lewatlah dijalan lain

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. "Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" ...katanya.

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambai­­kan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang.­­ Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya Nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua "Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".

"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh­­ telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu Nampak manggut-manggut­­, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".

Member yg bijak, para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda.

Silakan klik share/bagikan..

Tetap semangat....

Tetap santunnn yaaa. Salam Hangat Sahabat Hebatku...

Kamis, 10 Januari 2013

Bekerjalah dengan Ilmu

By Jamil Azzaini

Kita harus terus bertumbuh dan “naik kelas” bukan hanya saat sekolah dan kuliah. Saat kita bekerja, kita pun harus terus “naik kelas” dan tidak boleh stagnan. Setiap hari kita harus belajar, baik itu melalui training, baca buku, bergabung dengan komunitas yang pas, atau bertanya kepada yang lebih senior.
Bergaulah dengan orang-orang yang sudah ahli di bidang yang Anda tekuni agar Anda tertular energi dan ilmunya. Begitu saya sudah menentapkan menjadi Inspirator tahun 2004, setiap hari saya belajar dan berguru. Bukan hanya kepada yang lebih senior bahkan kepada yang lebih muda yang berilmu
Sadar diri bahwa saya tidak punya latar belakang psikologi maka saya belajar kepada para sarjana psikologi yang jauh lebih muda dari saya. Setiap kali saya tampil, saya meminta penilaian mereka. Bagian mana yang harus saya kuatkan dan bagian mana yang harus saya hilangkan. Para sarjana lulusan Universitas Indonesia ini memberi saya masukan yang berharga dan mewarnai penampilan saya selanjutnya. Mereka adalah Meli, Wildan, Dewi, Kitty, Risa (Odeng), Sari Mulatsih, Anesty, Randi dan Dayat serta teman-teman lainnya.
Selain itu, ada pula sarjana-sarjana Psikologi Universitas Islam Bandung yang selalu siap memberi masukan kepada saya. Mereka adalah Andri, Lia dan Damayati –sekarang menjadi pejuang anak-anak dhuafa agar berprestasi dan mandiri. Dari mereka semualah saya belajar.
Nah, bila Anda malas belajar Anda bisa saja melakukan kesalahan sebagaimana diceritakan dalam kisah berikut. Seorang kondektur baru kereta api jurusan Jakarta-Semarang sedang memeriksa karcis penumpangnya. Setelah penumpang kereta tersebut diperiksa satu persatu, semua tiket kereta mereka ternyata jurusan Solo. Kondektur baru ini menjadi bingung dan bertanya kepada kondektur yang sudah senior.
Kondektur baru bertanya, “Pak, penumpang kita semuanya penumpang gelap. Semua karcisnya beda. Apa yang harus saya lakukan kepada mereka?” Kondektur senior kemudian balik bertanya, “Karcisnya lain bagaimana?” Dengan cepat kondektur baru ini menjawab, “Semua penumpang karcisnya jurusan Solo, padahal kereta kita tujuannya ke Semarang.”
Mendengar penjelasan itu kondektur senior menjawab, “Kamu yang salah naik, ini kereta memang jurusan Jakarta-Solo. Kereta api yang jurusan Jakarta-Semarang tadi ada di rel sebelah.”
Salam SuksesMulia!

Jumat, 04 Januari 2013

Nikmatilah Proses

by Jamil Azzaini
Anda ingin sukses? Nikmatilah proses. Jangan senang yang serba instan. Penipuan pada kasus investasi bodong dan emas yang baru-baru ini terjadi menunjukkan bahwa banyak yang senang sukses instan. Padahal seharusnya kita tahu, investasi yang menawarkan keuntugan fantastis pada akhirnya membuat kita menangis.
Coba simak, saat kita seharusnya berlomba menjadi Hamba Allah orang-orang yang ingin sukses instan justru sibuk berlomba di proyek Hamba Lang. Ketidaksabaran kita pada proses membuat hidup kita bisa terjerumus ke dalam hal-hal yang sangat merugikan. Bahkan, para Nabipun tidak dinilai dari hasilnya tetapi proses yang dijalaninya.
Biasakanlah menikmati proses sebab bila proses yang kita lakukan berkualitas hasilnyapun berpeluang besar berkelas. Sebaliknya, bila kita hanya fokus pada hasil proses yang dijalani bisa menghalalkan segala cara dan menjerumuskan kita pada masalah baru.
Kisah berikut bisa dijadikan pelajaran. Seorang pemuda dibawa ke kantor polisi karena mengambil HP milik penumpang busway. “Kenapa kau mengambil HP?” tanya polisi. Pemuda itu menjawab, “Sumpah pak saya tidak mengambil HP.” Dengan cepat polisi itu menukas, “Kamu bilang gak ngambil HP, lha ini terbukti kamu bawa HP.”
Pemuda itu menjelaskan, “Benar pak, tapi saya tidak niat mengambil HP. Niat saya mencari kantor polisi. Saya tanya banyak orang tapi tidak ada yang tahu. Akhirnya saya ambil HP ini dan alhamdulillah akhirnya saya sampai kantor polisi.” Dengan sedikit heran polisi itu bertanya, “Lantas apa tujuanmu ke kantor polisi?” Sambil tersenyum pemuda itu menjawab, “Saya mau mengurus surat kelakuan baik pak.”
Salam SuksesMulia!

Senin, 31 Desember 2012

Sesuaikan Tindakanmu

By Jamil Azzaini
Saya punya banyak pengalaman menarik saat mendidik anak. Salah satunya ketika anak kedua saya Ahmad Sholahudin (Asa, sekarang 18 tahun) memrotes mamanya. Saat itu ia masih SMP, “Mama kalau diajak diskusi gak pernah nyambung.” Kemudian dijawab oleh mamanya, “Ya kamu kalau diskusi tentang sepak bola, mama gak ngerti sepak bola.”
Jawaban Asa mengejutkan saya. “Mama, ibarat kita mancing. Ikan sukanya cacing, sementara aku sukanya donat. Aku juga gak suka banget cacing. Aku mancingnga pakai apa? Pakai cacing, kan? Bukan pakai donat. Jadi kalau sudah tahu anaknya suka sepak bola, mama cari tahu tentang sepak bola dong biar kita nyambung.”
Memang agar kita mampu menarik perhatian orang lain kita harus cari tahu apa yang disukai lawan bicara kemudian belajarlah. Pembicaraan akan lebih menarik dan hidup bila obrolan dan interaksinya “nyambung”. Namun tidak untuk semua hal Anda harus mempelajari dan menguasai serta menyesuaikan dengan keinginan orang lain. Cerita berikut, terinspirasi dari penuturan pembaca web ini Maya Sukma Kiat, semoga bisa menjadi pelajaran.
Ada seorang trainer diminta memberikan training di pedalaman Papua. Kebetulan sang trainer ini mendapat giliran tampil di hari kedua. Untuk tahu suasana training hari pertama maka ia “mengintip” ke tempat training. Wow, ternyata semua peserta tidak berbusana dan hanya mengenakan koteka, sementara trainernya menggunakan jas rapi bahkan berdasi. Dia pun berpikir, “Wah trainer hari pertama ini kurang peka dan kurang bisa beradaptasi.”
Keesokan harinya tibalah giliran trainer ini tampil. Untuk menghormati para peserta maka trainer ini tidak berbusana dan hanya mengenakan koteka. Dia berbisik dalam hati, “Yes, saya akan lebih cepat diterima oleh para peserta training dibandingkan trainer hari pertama.”
Begitu masuk ke dalam ruangan, trainer ini terkejut karena semua peserta hari kedua mengenakan jas rapi sekaligus berdasi. Hanya ia yang menggunakan koteka dan itupun salah memasangnya.
Salam SuksesMulia!

Kamis, 20 Desember 2012

Hati-hati dengan Kata-Katamu

By Jamil Azzaini

Kata-kata yang terucap mencerminkan isi pikiran dan hati seseorang. Jadi kurang tepat bila ada yang berkata, “Kata-kata saya memang kasar dan keras tetapi hati saya lembut.” Itu namanya ‘pelajaran mengarang”, hehehe… Ibarat teko, apa yang tertuang menunjukkan isinya. Jadi, kalau tekonya berisi susu maka saat dituang keluarlah susu. Jika teko isinya air comberan maka saat dituang keluarnya pun pasti air comberan.
Kata-kata yang kita ucapkan sejatinya mempengaruhi sel-sel dan hormon-hormon dalam tubuh kita. Coba katakan, “Wah, jeruk ini asam banget, ya. Ampun, ampun, rasa asamnya sampai ubun-ubun. Ini jeruk terasam yang pernah saya makan!” Pernah makan jeruk masam? Tahu kan bagaimana rasanya? Membaca kata-kata tadi, apa yang Anda rasakan? Pasti Anda merakan sesuatu…
Karena kata-kata berpengaruh besar dalam hidup kita maka pastikan kita harus lebih sering mendengar kata-kata yang positif dibandingkan dengan yang negatif. Termasuk hati-hatilah tehadap apa yang Anda ucapkan karena itu mempengaruhi orang-orang di sekitar Anda. Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran.
Seorang lelaki naik kereta api dari Bogor menuju Jakarta. Ia duduk di dekat seorang ibu yang sedang merayu anaknya makan pizza herbal yang diperoleh dari sahabatnya. Karena berbagai rayuan tidak berhasil maka sang ibu menggunakan jurus pamungkas, “Ayo anakku makan pizza ini, nanti kalau tidak mau makan pizza ini mama kasih ke om yang disebelah ini, lho!” Mendengar omongan itu, lelaki di sebelahnya tersenyum. Aroma pizza yang begitu nikmat akhirnya menggoda perutnya.
20 menit berlalu, aroma pizza itu semakin menggoda namun sang anak belum juga mau makan pizza itu. Sementara itu, entah sudah berapa kali sang ibu berkata, “Ayo dong anakku, pizza ini dimakan. Nanti kalau gak mau makan, pizza ini mama kasih ke om di sebelah, lho!”
Tak tahan dengan aroma pizza yang semakin menggoda, pemuda itu pun memberanikan diri berkata, “Bu, tolong ambil keputusan segera. Sebab seharusnya saya sudah turun di tiga stasiun sebelumnya.”
Salam SuksesMulia!

Rabu, 05 Desember 2012

Terima Kasih...

Pada malam itu, Siervo (spanish=Hamba) bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Siervo segera pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun.
Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah Rumah Makan, dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan sepiring nasi, tetapi ia tidak mempunyai uang.
Pemilik Rumah Makan melihat Siervo berdiri cukup lama di depan etalasenya, lalu bertanya, “hai mas, apakah kau ingin sepiring nasi?” “Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Siervo dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan memberimu sepiring nasi,” jawab pemilik Rumah Makan. “Silahkan duduk, aku akan menghidangkannya untukmu.”
Tidak lama kemudian, pemilik Rumah Makan itu mengantarkan sepiring nasi dengan lauk pauknya. Siervo segera makan dengan nikmatnya dan kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa mas?” tanya pemilik Rumah Makan.