Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Juli 2014

Sederhana untuk Bahagia

#BahagiaItuSederhana
Saya teringat saat menuntut ilmu di jakarta beberapa tahun lalu. Saya menyadari harapan untuk lebih baiklah yg membuat kita kuat dalam menjalani hidup. Saat itu lagi makan malam tepatnya di depan Rumah Sakit OMNI Pulomas Jakarta Timur, mungkin penjual tak pernah tahu apakah pembeli berduit atau nggak, yg jelas gimana dagangannya laku (gitu kalee ya). Duit kala itu saya bagi untuk beberapa hari dan setelah di bagi alokasinya hanya 5000 per porsi (biasalah, budget anak kost-an), akhirnya dengan muka tembok didepan pelanggan lainnya saya hanya minta nasi dan kuahnya saja utk 2 porsi dgn harga 5 ribu. well, ternyata bisa dan ditambah sepotong oncom lagi. Lah, ini nyambungnya kemana. Nah, disini saya menyadari dan berpikir ternyata perasaan bahagia yg saya rasakan saat itu bisa dirasakan org lain yg bisa jadi dilihat dari perform menyampaikan permohonan pada penjual makanan saat itu, yg bisa jadi juga secara tidak langsung tanpa disadari saya bersyukur atas kemampuan saya membeli porsi makanan yg sederhana dan murah. Dan hal ini saya buktikan bukan terjadi sekali dua kali, saya pun yakin bahwa anda pernah mengalami hal tersebut. ya, bahagia milik siapapun yg bersyukur terlepas bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan tersebut.

Beberapa hari yang lalu, aku mendapati seorang sahabat saya merasakan kebahagiaannya, karena dia mendapatkan arti dari berjuang mencari cinta sejatinya dgn menikah. Ibu saya mendapati bahagia itu karena hari ini adalah hari di mana dia merasakan sejatinya kerja keras untuk meraih rezeki dari berdagang.
Walaupun hasil yang dia dapatkan tidak seberapa dengan apa yang dia keluarkan, namun dia merasakan sangat have fun dengan kegiatan berdagang tersebut. Bapak saya, yang dengan langkah kakinya menuju masjid Ar-Riyadh di kampung saya untuk menunaikan kewajibannya juga merasa bahagia karena lebih dekat dan dapat berkomunikasi dengan Allah lewat bacaan Al-Quran dan doa. Kakak saya yang harus bolak-balik balikpapan-samarinda tiap pekan untuk mencari nafkah pun bahagia saat bertemu dengan istrinya. Adik saya yg menuntut ilmu di luar kota juga merasa bahagia jika dapat telepon dari org rumah walaupun hanya sekedar kabar keadaan kedua orangtua sehat wal 'afiat apalagi kalau menyampaikan bahwa uang sudah masuk direkening, hehe just kidding tapi emang bener loh...
Aku tersenyum dengan pengakuan dan gelagatnya, aku pun ikut bahagia.
Well, bahagia itu sederhana, kawan.
Mungkin bagi sebagian orang, kebahagiaan diraih dengan materi, harta, tahta, dan puja-puji. Bagiku, cukup dengan mengetahui orang-orang yang aku peduli dan sayangi sedang merasakan bahagia, aku pun ikut bahagia. Karena itulah opini ini dapat dibenarkan, “Happiness will be happened for you whenever your heart wants it,  sometimes it just  from little things. “  :)
Yap, kebahagiaan itu akan datang kapan pun kamu menginginkannya, bahkan dari hal-hal kecil misalnya It’s so simple but worth, right? melihat anak kecil tertawa girang, melihat seorang ibu yang menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang, melihat sepasang kekasih yg berjalan bergandengan tangan dengan mesra, bahkan ketika mendengar tetangga yang bergembira karena kucing piaraannya

melahirkan kembar tiga.

Aku pun ingin tahu apa sih arti bahagia menurut orang-orang lain. Untuk itu, berikut ini aku share beberapa twit #BahagiaItuSederhana dari timeline twitter :
- Bahagia itu ketika menemukan sesuatu yg kita inginkan walopun ga harus memiliki #bahagiaitusederhana
- Bersama..tersenyum tertawa..melupakan keangkuhan dunia..kita terus menari dan berpegangan tangan #bahagiaitusederhana
- See my mother’s smile even she is sick #bahagiaitusederhana
#BahagiaItuSederhana liat orang tua tersnyum krna kita aja udah bahagia :)  #ASD
- Pas di samping’mu aku merasa tenang #BahagiaItuSederhana #TRM
- Keluarga di rumah sehat-sehat semua #BahagiaItuSederhana
- Terlepas dari kekalutan hati akan jurnal skripsi,ada secercah kebahagiaan dgn mendapatkan barter photocard #bahagiaitusederhana
- Makan yg banyak sebelum tidur itu enak #bahagiaitusederhana
- Ketika kamu sedang jatuh.. Aq yg memapahmu untuk bangkit begitu jg sebaliknya #bahagiaitusederhana
- #BahagiaItuSederhana, ketika kamu tahu… seseorang selalu mendoakanmu.

“Bahagia itu sederhana, cukup hadapi dengan senyuman dan syukuri apapun hasilnya” 
“Tersenyum, bersyukurlah dan Jadilah manusia yang paling bahagia, insya Allah!” 

“Awali harimu dengan senyum dan syukur dan rasakan kedahsyatannya!” 
“Tersenyumlah kawan, karena dalam senyum tulusmu ada dakwah dan sedekah” 
“Senyum adalah pesan kebahagian yang paling cepat sampai kehati, untuk itu jangan tunggu bahagia baru tersenyum tapi tersenyumlah agar bahagia. Tersenyumlah disaat senang maupun sedih, karena itu tanda keceriaan dan optimis.” 
Senyum dan syukur adalah dua modal utama menuai kebahagiaan tentunya setelah iman dan taqwa. Senyum membuatmu dicintai manusia dan syukur menjadikanmu dekat dengan Pencipta manusia. 
Sekali lagi, awali harimu dengan syukur dan senyum dan rasakan kedahsyatannya! Awali harimu dengan senyum dan syukur dan jadilah manusia yang paling bahagia, insya ALLAH. 
Tersenyumlah.. kawan!

Tetap santun dan sukses mulia dunia-akhirat, bro.. ok.

Minggu, 13 Juli 2014

Dendam Positif

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering.

Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas. Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: "Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur" Suara itu berasal dari mulut seorang insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut.

Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman Amerika.
Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur?
Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang- ngiang dalam dirinya.

Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan "DENDAM POSITIF" Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.

Apakah sampai di situ saja?Tidak! Karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.


Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat
sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu. Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi
bawahannya.



Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; "Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian 'air 'di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu "Apa jawaban sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: "Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu.Ya dulu aku benci padamu.
Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. "Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan.

Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilakan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah Anda kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan MineralArab Saudi. Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia. Itulah kekuatan "DENDAM POSITIF". Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana
keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat "Dendam Positif." (Sumber: Buku Dendam Positif karya Isa Alamsyah dan Asma Nadia).

Tetap semangat, tetap ramah dan santun sahabat Hebatku...

16 Ramadhan 1435 H.

Sabtu, 14 Desember 2013

Kisah singa dan sholat yg khusyu'

Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Siyar A’lam Nubala’ menceritakan sebuah kisah yang mengagumkan dan sepantasnya jadi renungan kita bersama.
Sekelompok orang melakukan safar tiba di sebuah lembah yang dikelilingi hutan belantara. Saat malam tiba, mereka beristirahat di sana. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya seekor singa. Semua orang panik. Semua orang takut. Mereka pun berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon.
Tetapi, diantara riuhnya kepanikan itu, ada satu orang yang tetap tenang. Ia sedang shalat dan tetap melanjutkan shalatnya. Orang-orang melihat detik demi detik berikutnya yang sangat menegangkan. Benar dugaan mereka, singa itu mendatangi orang yang tengah melakukan shalat itu. Matanya menyorot tajam. Satu langkah, dua langkah. Aneh. Singa itu tidak langsung menerkamnya. Singa itu justru berjalan mengelilingi orang itu. Setelah itu, singa pergi meninggalkannya begitu saja. Orang-orang bernafas lega. Setelah memastikan singa itu pergi dan tidak ada tanda-tanda ia kembali lagi, mereka pun turun dari pohon. “Engkau gila!” kata mereka kepada temannya seusai ia shalat “mengapa engkau tidak ikut menyelamatkan diri bersama kami? Hampir saja singa itu memakanmu”. “Seperti kalian lihat,” jawabnya tenang, “aku tadi sedang shalat. Demi Allah, aku merasa malu bahwa aku sedang berdiri menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada hal lainnya.”. “Aku malu bahwa aku berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi aku malah takut kepada salah satu makhlukNya.”

Masya Allah… demikian tinggi tingkat khusyu’ shalat orang ini. Ia tetap berada dalam shalatnya, meski singa datang mendekatinya. Bagaimana dengan kita? Selayaknya kita banyak-banyak beristighfar karena pada saat shalat, kita mengingat hal lain. Kita membaca Al Qur’an, tetapi pikiran kita terkadang melayang ke sana kemari. Tubuh kita menghadap kiblat, tetapi jiwa kita berada di tempat yang lain. Lisan kita melafal doa, tetapi hati kita tidak menghayati doa-doa itu. Lalu bagaimana seandainya ada kucing yang datang mendekat kepada kita? Kucing saja, bukan singa. Terkadang seekor kucing sudah membuat kita salah tingkah dalam shalat. Apalagi singa. Atau yang lebih sering, nyamuk yang menggigit kita saat sedang shalat, membuat kita lebih konsentrasi pada sakit gigitannya daripada tenggelam dalam ayat- ayat yang kita baca.
Mari merenungi shalat kita dari kisah ini. Betapa masih jauhnya kita dari khusyu’ saat shalat. Padahal Allah memfirmankan kecelakaan orang-orang yang lali dari shalatnya. “Wailul lil mushalliin, alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun”. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa “an shalatihin saahuun” adalah orang-orang yang meninggalkan shalat. Mereka itulah orang-orang yang celaka. Namun, sebagian yang lainnya menjelaskan bahwa “an shalatihim saahuun” adalah mereka yang lalai dalam shalatnya. Mengerjakan shalat, tetapi waktunya ditunda-tunda. Termasuk juga mengerjakan shalat, tetapi hati dan jiwanya tidak ikut shalat. Mengerjakan shalat, tetapi ia tidak khusyu’ dalam shalatnya. Sekedar fisik yang menghadap kiblat dan lisan yang mengucap doa, tetapi hatinya lalai entah ke mana. Na’udzubillah. [Muchlisin BK/ Kisahikmah.com ]

Tetap semangat dan santun sahabat hebatku...

Jumat, 01 Maret 2013

Akupun menyadarinya...

Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.

Pada suatu ketika, si pemuda merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.

"Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.

Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini."

Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya."

Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini."

Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain".

Segera timbul kesadaran baru. "Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain".

Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.

=================================================

Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. 

Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.

Pandanglah dunia yang luas ini dengan positif karena Allah beserta orang2 yang beriman, itu janji-Nya

Maka, jangan melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar biasa!

Sumber : andriewongso.com

Jumat, 22 Februari 2013

Durian Manis dan Durian Tanpa Rasa

Dua orang anak remaja melewati sebuah rumah yang memiliki kebun besar di depannya. Salah satu pohon di depan rumah tersebut adalah sebuah pohon durian. Saat itu sedang musim durian sehingga kebetulan pohon tersebut sedang berbuah. Mereka berdua melihat beberapa durian yang sudah terlihat matang di pohon. Rudi mengatakan bahwa durian tersebut pasti manis. Sementara temannya Anton mengatakan bahwa durian tersebut tidak ada rasanya. Mengapa bisa berbeda?
“Mengapa kamu mengatakan bahwa durian tersebut tanpa rasa?” tanya Rudi kepada Anton.
Sambil tersenyum Anton menjawab, “Mata tidak bisa merasakan manis atau pahit. Jadi durian tersebut tidak punya rasa karena hanya bisa dilihat.”
“Kacian deh loe!”, ejek Rudi sambil tertawa.
“Memang kamu bisa memakan durian itu?” kata Anton balik menyerang.
“Kenapa tidak?” jawab Rudi sambil tersenyum yakin.
“Kamu mau mencurinya? Yang punya rumah ini galak. Kalau ketahuan bisa bahaya!” kata Anton.
“Siapa bilang mau mencuri? Saya akan mendapatkan durian itu tanpa mencuri.” bela Rudi dengan yakin.
“Bagaimana mungkin? Memang kamu punya uang untuk membelinya?” tanya Anton.
“Tidak juga, tetapi saya punya ini dan ini.” kata Rudi sambil menunjukan kepala dan otot bisepnya. Rudi melanjutkan, “Mari kita buktikan.”
Kemudian Rudi menuju pintu pagar kebun tersebut dan memijit bel. Pemilik rumah pun keluar dan bertanya kepada Rudi.
“Ada apa Rudi?”
“Apakah bapak perlu bantuan untuk membersihkan kebun Pak? Kami berdua siap membantu bapak.” kata Rudi sambil melirik temannya Anton. Anton seperti dihipnotis langsung mengangguk.
“Oh begitu!”, kata pemilik rumah, “kamu mau apa sebagai upahnya?” lanjutnya.
“Cukup satu buah durian saja pak.” kata Rudi sambil melihat sebuah durian yang terlihat sudah matang.
“Kalian kan berdua, nanti saya kasih dua buah, masing-masing satu. Asal kalian bekerja dengan baik.”
“Siap pak!” kata Rudi sambil memberi hormat layaknya tentara disusul oleh Anton.
Singkat cerita pekerjaan pun beres. Mereka berdua menikmati durian masing-masing. Rudi bertanya kepada Anton.
“Bagaimana rasanya durian kamu?”
“Manis, he he.” jawab Anton sambil tertawa.
***
Pesan moralnya? Silahkan simpulkan sendiri. Jika mau berbagi kesimpulan atas cerita ini silahkan tuliskan pada form komentar.

Kamis, 20 Desember 2012

Hati-hati dengan Kata-Katamu

By Jamil Azzaini

Kata-kata yang terucap mencerminkan isi pikiran dan hati seseorang. Jadi kurang tepat bila ada yang berkata, “Kata-kata saya memang kasar dan keras tetapi hati saya lembut.” Itu namanya ‘pelajaran mengarang”, hehehe… Ibarat teko, apa yang tertuang menunjukkan isinya. Jadi, kalau tekonya berisi susu maka saat dituang keluarlah susu. Jika teko isinya air comberan maka saat dituang keluarnya pun pasti air comberan.
Kata-kata yang kita ucapkan sejatinya mempengaruhi sel-sel dan hormon-hormon dalam tubuh kita. Coba katakan, “Wah, jeruk ini asam banget, ya. Ampun, ampun, rasa asamnya sampai ubun-ubun. Ini jeruk terasam yang pernah saya makan!” Pernah makan jeruk masam? Tahu kan bagaimana rasanya? Membaca kata-kata tadi, apa yang Anda rasakan? Pasti Anda merakan sesuatu…
Karena kata-kata berpengaruh besar dalam hidup kita maka pastikan kita harus lebih sering mendengar kata-kata yang positif dibandingkan dengan yang negatif. Termasuk hati-hatilah tehadap apa yang Anda ucapkan karena itu mempengaruhi orang-orang di sekitar Anda. Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran.
Seorang lelaki naik kereta api dari Bogor menuju Jakarta. Ia duduk di dekat seorang ibu yang sedang merayu anaknya makan pizza herbal yang diperoleh dari sahabatnya. Karena berbagai rayuan tidak berhasil maka sang ibu menggunakan jurus pamungkas, “Ayo anakku makan pizza ini, nanti kalau tidak mau makan pizza ini mama kasih ke om yang disebelah ini, lho!” Mendengar omongan itu, lelaki di sebelahnya tersenyum. Aroma pizza yang begitu nikmat akhirnya menggoda perutnya.
20 menit berlalu, aroma pizza itu semakin menggoda namun sang anak belum juga mau makan pizza itu. Sementara itu, entah sudah berapa kali sang ibu berkata, “Ayo dong anakku, pizza ini dimakan. Nanti kalau gak mau makan, pizza ini mama kasih ke om di sebelah, lho!”
Tak tahan dengan aroma pizza yang semakin menggoda, pemuda itu pun memberanikan diri berkata, “Bu, tolong ambil keputusan segera. Sebab seharusnya saya sudah turun di tiga stasiun sebelumnya.”
Salam SuksesMulia!

Kamis, 29 November 2012

Kreatiflah atau Tertinggal

By Jamil Azzaini



Saat saya SD dulu, bila guru berkata, “Anak-anak silakan gambar pemandangan yang paling indah.”  Saya dan sebagian Anda bisa menebak apa yang akan digambar oleh para siswa. Pasti ada gunung, sawah, matahari terbit, jalan dan awan. Pendidikan kita tidak menghasilkan anak-anak yang kreatif saat itu.
Namun sekarang dunia pendidikan sudah berubah. Selain banyak pelatihan gratis buat guru, muncul juga komunitas-komunitas yang peduli pendidikan. Berbagai model sekolah pun bermunculan. Dua anak saya yang kini bermukim di Jerman yaitu Nadhira (20 tahun) dan Asa (18 tahun) adalah lulusan sekolah alam, yang belum ada saat saya kecil dulu. Sekolah tersebut melatih dan mengembangkan kreativitas tak berbatas pada anak-anak. Tidak heran kalau dua anak saya tadi lebih kreatif dibandingkan saya saat kecil dulu.
Kreativitas juga tumbuh subur di dunia bisnis. Dulu orang jualan pecel lele pakai tenda di pinggir jalan. Tapi sahabat saya Rangga Umara mengubahnya menjadi lebih bergengsi, Pecel Lele Lela. Bahkan pecel lele bisa masuk istana negara dengan sentuhan penulis buku Dream Book ini. Dulu tidak ada profesi Optimizer, sahabat saya Ali Akbar mempopulerkan istilah itu dan telah melahirkan banyak orang sukses dengan profesi baru itu.
Teruslah berkreasi karena tuntutan jaman semakin berubah dan tinggi. Ingat pesan Albert Einstein, “Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama.”  Cobalah cara baru, cobalah strategi baru dan jangan lupa juga cobalah hal-hal baru. Dengan cara ini hidup kita semakin bermutu.
Nah, kreativitas juga muncul dalam wawancara perusahaan saat merekrut tenaga kerja baru. Alkisah, seorang pimpinan HRD di sebuah perusahaan mewawancarai tiga kandidat karyawan baru. Mereka akan ditempatkan di bagian yang memerlukan kreativitas dan kecerdasan tinggi.
Pertanyaan pertama dimulai, “Apa yang bergerak cepat dan sebutkan alasannya?” Kandidat pertama menjawab, “Pikiran pak, karena tanpa kita duga tiba-tiba pikiran sudah muncul.”
Pimpinan HRD itu berkata, “Bagus dan cerdas Anda. Selanjutnya kandidat kedua, apa jawabanmu?” Kandidat kedua pun menjawab, “Saklar lampu, pak. Kita pencet saklar lampu di dalam rumah tetapi lampu di luar rumah menyala.”
Pimpinan SDM itu berkata, “Luar biasa Anda. Sekarang kandidat yang ketiga, apa jawabanmu?” Maka dengan tegas kandidat ketiga itu menjawab, “Menurut saya yang paling cepat itu mencret-mencret, pak”
Mendengar jawaban itu terkejutlah pimpinan SDM itu maka langsung ia bertanya, “Mengapa begitu, sebutkan alasannya?” Kandidat ketiga menjawab, “Karena belum sempat kita berpikir dan menekan saklar lampu, mencret sudah keluar, pak.”





Minggu, 30 September 2012

Positive Thinking

Suatu ketika di Negara Eropa, seorang kriminal buronan negara berhasil tertangkap. Sang kriminal adalah buronan kelas kakap yang telah melakukan banyak sekali kejahatan, perampokan, pembunuhan, terorisme dan tidaklah terhitung daftarnya.
Pengadilan Negara menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya dan mereka mulai mendiskusikan hukuman apa yang akan mereka berikan kepada sang kriminal. Mereka memilih beberapa alternatif, diantaranya hukuman gantung, hukuman tembak, kursi listrik, ruang beracun, dll.
Pada saat diskusi tersebut berlangsung, seorang ilmuwan mencadangkan suatu metode baru sebagai percobaan untuk memberi vonis hukuman mati, suatu metode yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Mereka pun mendengarkan ide tersebut dan akhirnya mereka pun menyetujui ide tersebut dan membiarkan sang ilmuwan melakukan riset terhadapnya.
Sang kriminal dimasukkan kedalam suatu ruangan dan dibaringkan dengan tubuh terikat. Matanya ditutup dan dibisikkan ”Kamu akan segera dihukum mati! dengan metode terbaru maka urat nadi di pergelanganmu akan kami potong dan darahmu akan segera menetes. Kamu tidak akan merasa sakit karena teknologi yang kami gunakan sangat canggih.
Darahmu akan menetes perlahan-lahan dan akan membiarkan dirimu mendengar suara tetesannya. Secara perlahan kamu akan kehabisan darah dan tubuhmu akan melemah, detak jantungmu semakin perlahan.. semakin lemah.. sampai akhirnya kamu akan mati !”

Kamis, 27 September 2012

Belajar pada yang lebih Kecil

Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.
”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”
Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”
Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.
Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”
Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab,
”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”
Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.
Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

Jadilah Muslim Hebat yang bermanfaat pada sesama melalui inspirasi-inspirasi hidup Anda karena dengan hal itu kita minimal sudah dapat berbagi kepada sesama dan jadilah PEMENANG sahabat hebatku...

Rabu, 29 Februari 2012

Allah pasti menciptakan berpasang2an


Pertanyaan klasik yg selalu melekat mengiringi langkah kehidupan setiap orang dewasa adalah kapan menikah? yg ditanyapun selalu mentok dgn pertanyaan ini, bingung gak tau harus menjawab apa. Pertanyaan ini bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari misalnya pembicaraan-pembicaraan ringan dgan teman, saudara, atau sekeliling kita tentang  kesendirian kita dan ini gak akan terlepas dari kita yg belum berkeluarga. dibutuhkan kebijakan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yg datang tanpa harus merasa tertekan secara mental karena ini bukanlah cemohan atau ledekan namun berupa bentuk kasih-sayang dan perhatian terhadap kita. misalnya kalo aku ditanya kapan menikah? just easy to answer it  “mei”. mereka akan segera melanjutkan pertanyaan dengan siapa? dimana? akupun mejawab pertanyaan ini dengan senyum dan berkata “meibi yes meibi not”.
 
Usia akan terus melaju dgan cepat tanpa bisa kita nego untuk berhenti sejenak. Ummyku bilang umur lelaki itu ibarat traffic light, di umur 20-24 tahun lampu hijau yang artinya gak masalah jika jodoh belum mendekat (santai aja bro..), umur 25-30 tahun lampu kuning artinya hati-hati diusia yang seperti ini karena usia yang sudah cukup matang untuk membangun rumah tangga. 31-40 tahun lampu merah artinya ikhwan di usia gini udah dapat digolongkan perjaka tua jika gak juga menemukan jodohnya. Kalau dipikir-pikir pengibaratan ini benar juga. kebanyakan dari ikhwan yang resah menanti jodoh di usia lampu kuning karena takut digolongin dalam usia lampu merah.

Allah punya rencana yg indah untukmu..



“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.
Bagi seorang manusia, keberhasilan adalah suatu kondisi yang selalu ingin dicapai. Tidak ada satupun manusia yang ingin terpuruk dalam kegagalan terus-menerus. Bagi mereka yang mau dan mampu untuk meraihnya, keberhasilan itu akan dapat diraih atas izin Allah SWT.

Seorang mahasiswa pasti mengharapkan sebuah prestasi akademik yang baik. Seorang pengusaha pasti selalu mengharapkan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Seorang pilot pasti mengharapkan agar dapat take off dan landing dengan selamat. Seorang penulis buku pasti mengharapkan agar bukunya dapat diminati oleh banyak orang. Begitupun dengan kita, kita pasti mengharapkan keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.


Minggu, 26 Februari 2012

masa sekarang untuk masa depan

بسم الله الرحمن الرحيم
Gak ada Rahasia untuk mendapatkan kesuksesan. Kesuksesan hanya hasil dari persiapan, kerja keras, dan pembelajaran dari setiap kegagalan.
Haloo sahabat Hebatku, apakah Kamu setuju dengan pendapat di atas? Bagaimana Kamu mengartikan sebuah kesuksesan? Tentunya banyak sekali definisi tentang arti sukses dalam benak kita. Yah.. apapun itu, hampir sebagian dari kita bahkan keseluruhan makluk dijagat raya ini sangat menginginkan kesuksesan dalam hidupnya. Begitu juga dengan Kamu,kan?
Harga kesuksesan ditentukan tiga faktor utama yakni, *keberanian bermimpi, *Merencanakan apa yang kita impikan, *Serta kesungguhan dan kegigihan dalam bertindak (ACTION).
Namun dalam pilihan ACTION, terkadang jalan yang kita lewati tak semulus jalan tol. Kerap ada hambatan, rintangan, dari yang sekecil kerikil sampai (mungkin) sebesar batu karang. Tapi apakah hanya karena itu kita akan berhenti dan menyerah untuk tak lagi bertindak (ACTION?)

Dgn berbagi, Aku bisa!!,, Buktiin dech!!!

Salam hangat Sahabat Hebatku,
Gak bosan rasanya menemui antum di sela-sela waktu berhargamu, untuk berbagi ilmu dan motivasi, semoga antum masih setia membaca dan menerapkan artikel ini untuk kehidupan antum yang lebih Hebat. Amiin…
Bicara soal Berbagi, Hal apa yang sudah antum bagi_in hari ini? Apa antum udah melakukannya? Kalau sudah, Ayo.. serta kan dengan hati yang ikhlas ya.. maka rasakan mamfaat yang luar biasa untuk antum dan orang yg Menerima pemberian antum. Pasti hidupmu lebih Berkah. Di JAMIN HEBAT..
Sahabat Hebatku, Seorang pengusaha pernah mengatakan hal ini, “jika Aku mempunyai uang seratus ribu satu lembar dan Kamu mempunyai uang sepuluh ribu sepuluh lembar, lalu uang itu ditukar, nilainya akan sama,bukan? Saya dan anda tetap mempunyai uang seratus ribu. Akan tetapi berbeda jika Aku dan Kamu masing-masing mempunyai satu buah ‘ide’ lalu kita saling Tukeran nih, Nah kira-kira apa yg terjadi? Aku akan mempunyai dua buah ‘ide’ dan Tentu Kamu pun akan menerima hal yang sama,bukan? “mengapa bisa demikian? Itulah yang dinamakan Kekuatan Berbagi!! (Masih bersemangat!! Yuk kita lanjutkan,

Kamis, 09 Februari 2012

Kuburan Adalah Awal Persinggahan Akhirat

Kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, namun ia adalah awal persinggahan akhirat, dan kehidupan yang menentukan nasib hamba.
Hani Maula ‘Utsman berkata, “Utsman bin ‘Affan apabila berdiri di sisi kuburan, beliau menangis sampai basah janggutnya, lalu dikatakan kepadanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tidak menangis, namun untuk ini anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا وَالْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ.

‘Sesungguhnya kuburan adalah awal persinggahan akhirat, jika selamat darinya maka yang setelahnya akan lebih mudah darinya, dan jika tidak selamat maka yang setelahnya lebih berat darinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, ‘Tidak pernah aku melihat pemandangan yang amat mengerikan kecuali (siksa) kubur lebih mengerikan darinya.’” (HR Ibnu Majah)[1].